Media Harian Online

Media Harian Online
Home » » "Jenderal" Pun ikut Gandakan Uang Pada Dimas Kanjeng

"Jenderal" Pun ikut Gandakan Uang Pada Dimas Kanjeng

Written By siswo handoyo on Selasa, 27 September 2016 | 19.08

                                         Dimas Kanjeng Taat Pribadi dukun pengganda uang
                                         yang dulu pernah menobatkan diri sebagai raja
                                         di Probolinggo.

Dutacwnews,Jatim
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD menceritakan kala itu saat pilpres dirinya di ajak oleh Ketua Yayasan Dimas Kanjeng Taat Pribadi Marwah Daud Ibrahim.
Rencananya Mahfud saat itu hendak ke Pasuruan Jawa Timur. Mahfud dan rombongan akhirnya mampir ke padepokan tersebut.

Dimas Kanjeng mengumpulkan lebih dari 10 ribu massa saat itu. Dalam pidatonya Dimas Kanjeng kala itu memperkenalkan Mahfud di hadapan massa sebagai santrinya. "Ini pak Mahfud ini santri saya katanya, saya ndak suka baru kenal kok di bilang santrinya, abis itu saya ndak pernah kontak lagi", tutur Mahfud.
"Tiba tiba dia ngomong di publik ini santri saya, hehehe kayak stress gitu, Saya anggap agak sinting gitu, hingga saya di kontak-kontak lagi enggak pernah datang, tiba-tiba dia di tangkap Polisi penggandaan uang ya", sambung nya

Mahfud menceritakan di rumah Dimas Kanjeng suasana Pesantren juga tak terlihat di komplek Padepokan tersebut. "Kalau pesantren kan ada kayak pakaian-pakaian orang santri, di situ endak ada kayak padepokan perguruan silat gitu loh, tapi saya sekali saja ke situ," ujarnya.
Saat bertemu itu dirinya sudah tidak yakin Dimas Kanjeng memiliki kemampuan seorang kyai.
Menurutnya Dimas Kanjeng tidak fasih membaca salam, shalawat, dan doa-doa. Mahfud melihat justru padepokan itu lebih seperti tempat klenik.

Di sana juga ada yang datang untuk menggandakan uang, termasuk dari kalangan Jenderal.
"Saya yang klenik-klenik gitu nggak percaya saya , katanya ada beberapa jenderal banyak gandakan uang di situ, itu yang saya dengar, saya kan yang kayak gitu muak juga,kayak apa ini zaman sekarang kok masih ada orang berlaku begitu kok masih percaya.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, pembunuhan dua mantan santri padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi untuk membungkam tindak kejahatan.
Polisi menduga taat pribadi membunuh mantan santri nya di waktu yang berbeda, karena khawatir perbuatannya tersebut di sebar luaskan oleh mereka.
"Memang ada ketidak nyamanan dari taat pribadi. Ada ke khawatiran terhadap dua orang ini", kata Boy.
Dalam pembunuhan itu Taat Pribadi memerintahkan anak buahnya bernama wahyu untuk menghabisi Abdul Gani dan Ismail.

Kedua santri nya ini di anggap berencana membongkar mengenai penggandaan uang yang di lakukan sang guru. Namun Polisi enggan buru-buru menyimpulkan motif pembunuhan itu.
Selain pembunuhan  di duga Taat Pribadi juga melakukan penipuan dengan menjanjikan penggandaan uang.
(satrio)
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. DCW_News - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger